KAJASHA

Keluarga Alumni Jama'ah Shalahuddin

Jamaah Shalahuddin didirikan untuk menghapus sekat-sekat politis yang sangat panas dan kental waktu itu (1976-an). Aktivis JS berasal dari berbagai gerakan, dan semua menyatu dalam wadah dakwah kampus, Jamaah Shalahuddin UGM (Sejarah JS UGM). -------- Keluarga Alumni Jamaah Shalahuddin: silaturahim aja itu, kekeluargaan aja itu, kalau kita organisasi yang melakukan hal-hal yang praktis gitu…biasanya mandeg, entah itu kegiatan besar atau kegiatan politik atau kegiatan apa gitu malah mandeg, atau sekolah atau pendidikan malah mandeg. (Edi Meiyanto)



Gelanggang Mahasiswa : “Shalat Jumat bersama Rektor dan Aktivis terdahulu”

AddThis Social Bookmark Button

Sumber JS UGM

Siang itu, ada hal yang membuat beda dengan suasana Gelanggang Mahasiswa UGM. Siang yang cerah disertai sedikit mendung membuat suasana hati menjadi sejuk nan damai. Orang-orang berbondong-bondong menuju lapangan basket Gelanggang Mahasiswa. Ada apa gerangan ? Ternyata, hari itu (Jumat, 30 Desember 2011) Jama’ah Shalahuddin UGM mengadakan shalat Jumat di Gelanggang Mahasiswa. Bisa dikatakan, shalat Jumat ini merupakan shalat Jumat pertama kalinya di gelanggang mahasiswa setelah berpuluh-puluh tahun lamanya vakum. Tahukah kamu ? Berpuluh tahun yang lalu, tepatnya tahun 1976 Jamaah Shalahuddin UGM berdiri sebagai Lembaga Dakwah Kampus UGM. Saat itu pula, gelanggang sebagai pusat pergerakan mahasiswa termasuk Jama’ah Shalahuddin sendiri menjadikan tempat ini menjadi pusat pergerakan keislaman kampus biru ini. Mulai dari acara pengajian-pengajian, shalat Jumat, peringatan hari raya, shalat tarawih, dsb. Bak rerumputan di musim hujam, peserta selalu membanjiri setiap acara Jama’ah Shalahuddin di gelanggang mahasiswa pada masa itu.

Hal ini tiada mengherankan, karena tokoh-tokoh yang didatangkan memiliki kaliber di negri ini, sebut saja Prof. Amien Rais, Buya Hamka, dsb. Masa itu, negri ini berada di bawah kepemimpinan Soeharto dimana banyak orang beranggapan Beliau memiliki gaya kepemimpinan yang otoriter. Semua kegiatan kemasyarakatan termasuk keagamaan dilakukan monitor oleh pemerintah. Setiap elemen yang menentang pemerintah maka akan dibungkam dan ditindak oleh pemerintah. Sehingga, barangkali menjadikan suasana hati tersendiri ketika hadir di khutbah-khubah yang diadakan oleh Jama’ah Shalahuddin di Gelanggang Mahasiswa, karena tokoh-tokoh yang didatangkan berani dan lantang memberikan kritikan-kritikan kepada pemerintah negri ini, seakan menjadi sandaran aspirasi masyarakat pada masa itu.

Shalat jumat kali ini sebagai khotib adalah Ir. Muslikh Zainal Asikin, MT, MBA (salah satu founding fathers Jama’ah Shalahuddin) dan sebagai imam adalah Drs.

Haryanto, M.Si. (Direktur Kemahasiswaan UGM). Shalat Jumat kali ini menjadi refleksi bagi mahasiswa Kampus Gadjah Mada. Bahwa gerakan mahasiswa yang dikelola dengan manajemen yang bagus akan memberikan andil yang besar untuk pembangunan negri ini. Turut hadir Prof. Soedjarwadi (Rektor UGM 2007-2012), dr. M. Mansyur Romi (Ketua Jama’ah Shalahuddin pertama, yang sekarang menjadi dosen di FK UGM), Prof. Indra Bastian, Ph.D. (Alumni Jama’ah Shalahuddin, yang s

 

ekarang sebagai dosen di FEB UGM) dan beberapa aktivis tahun 70-80’an. Paska Shalat Jumat Prof. Soedjarwadi selaku rektor UGM memberikan sambutan dan petuahnya. Beliau juga menguraikan mimpi-mimpi beliau terhadap pembangunan kampus ini dan tak lupa meminta

 

maaf apabila selama ini memimpin terdapat kesalahan, mengingat tak lama lagi Beliau selesai dari jabatannya dan dilakukan pemilihan rektor UGM yang baru.

 

Seusai Shalat, hadirin disuguhkan angkringan sebagai sajian khas mahasiswa Yogyakarta. Sambil menikmati hidangan sederhana nan merakyat, mahasiswa diajak melakukan refleksi akhir tahun 2011 bersama para aktifis terdahulu. Bercerita tentang epos perjaungan masa lalu, sebuah romantika gerakan mahasiswa yang penuh dengan kobaran semangat perjuangan yang memberikan hikmah tersendiri bagi peserta yang hadir.

 

Acara ini diakhiri dengan uraian yang disampaikan oleh Sdr. Arif Nurhayanto sebagai Ketua Jama’ah Shalahuddin yang baru, yakni periode 1433 H. //Oleh: Mamu Naidra (Teknik Elektro UGM 2009)


 

  • Awan tag

  • Recent Comments

  • Meta