Pengantar:

Beberapa waktu yang lalu KAJASHA (Keluarga Alumni Jamaah Shalahuddin UGM) bersama Sekolah Pasca Sarjana UGM mengadakan sarasehan “Pengembangan Paradigma Ilmu Profetik” dengan pembicara tunggal Prof.Dr. Sri Ahimsa Putra. Sarasehan ini adalah yang kedua setelah yang pertama diadakan pada tahun 2002 di tempat yang sama. Pada sarasehan yang pertama menampilkan beberapa pembicara dengan pembicara kunci Prof Kunto Wijoyo (alm). Konsep paradigma ilmu profetik dikenalkan oleh Pak Kunto sebagai pilihan pengganti paradigma ilmu sekuler yang saat ini digunakan dalam pengembangan ilmu modern. Tawaran Pak Kunto ini menarik perhatian bagi semua yang sedang prihatin melihat pengembangan paradigma ilmu saat ini yang menghasilkan produk materialis dan liberal; miskin arah dan tanpa muatan kebenaran hakiki. Pak kunto menawarkan alternatif paradigma yang transenden. Arus yang deras dalam ilmu sekuler seolah membuat manusia tak berdaya untuk mencari celah penyelamatan diri karena belum tersedianya atau belum kokohnya alternatif paradigma ilmu yang transenden. Pak Kunto telah menawarkan pilihan tetapi belum mengulas secara lengkap struktur paradigma yang dimaksud. Untuk itulah, pada makalah berikut ini Mas Ahimsa mencoba mengulas dan membedah paradigma tersebut untuk bahan diskusi kita semua. Semoga bermanfaat:

Edymei

Unduh Makalah Profetik klik di sini Profetik-Kajasha-UGM-heidy-1

_______

 

makalah

sarasehan

februari 2011

PARADIGMA PROFETIK

– MUNGKINKAH ? PERLUKAH ? –

Heddy Shri Ahimsa-Putra

Antropologi Budaya

Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Gadjah Mada

I. PENGANTAR

Kira-kira sembilan tahun yang lalu, tepatnya 2 Nopember 2002, sebuah sarasehan ilmu-ilmu profetik digelar di UGM di gedung Pascasarjana. Sejumlah makalah dari ber-bagai disiplin dipresentasikan, di antaranya dari bidang Ilmu Humaniora, Ilmu MIPA dan Teknik, Ilmu Sosial, Ilmu Pertanian dan Ilmu Kesehatan. Tidak semua makalah be-rupa makalah yang ditulis secara rinci dan jelas. Ada yang hanya berisi butir-butir pemi-kiran yang juga tidak mudah dimengerti maksudnya; ada yang ditulis dengan panjang lebar, tetapi isi dan arah pembicaraan juga tidak sepenuhnya jelas, sehingga setelah membaca makalah-makalah tersebut saya tidak memperoleh gambaran yang cukup je-las tentang apa yang dimaksud dengan ilmu-ilmu profetik itu sendiri.

Singkatnya kelemahan-kelemahan dalam berbagai makalah tersebut dapat diring-kas sebagai berikut. Pertama, makalah-makalah itu belum memaparkan dengan jelas, mengapa ilmu profetik perlu dibangun. Kedua, belum memaparkan secara sistematis apa yang dimaksud dengan profetik, dan bagaimana mewujudkannya dalam kegiatan keilmuan, agar kemudian dapat terbangun ilmu-ilmu yang profetik. Ketiga, belum me-maparkan dengan cukup jelas kerangka pemikiran tentang ilmu pengetahuan dengan berbagai unsurnya, sehingga ilmu profetik yang ingin dibangun juga tidak dapat diketa-hui sosoknya secara jelas.

Meskipun demikian, hal itu tidak berarti bahwa pemikiran tentang ilmu profetik tidak ada. Seingat saya, gagasan mengenai ilmu profetik di Indonesia ini pada mulanya ber-asal dari Prof. Dr. Kuntowijoyo, guru besar sejarah dari Fakultas Ilmu Budaya, UGM. Gagasan ini dituangkan lebih lengkap oleh beliau dalam bukunya yang berjudul Islam sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi dan Etika, yang diterbitkan pada tahun 2004. Jadi belum begitu lama. Meskipun demikian, pemikiran-pemikiran Kuntowijoyo -yang selanjutnya akan saya sebut Mas Kunto, sapaan akrab saya untuk beliau- mengenai il-mu profetik tersebut bibit-bibitnya sudah ditebar lebih awal dalam bukunya Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi (Mizan, 1991). Saya tidak tahu apa persisnya reaksi pu-blik cendekiawan Indonesia ketika buku-buku tersebut terbit, karena saat itu saya mash di Amerika Serikat, menyelesaikan s-3.

Saya sendiri pada awalnya tidak banyak menaruh perhatian pada pemikiran-pemi-kiran mas Kunto, yang lebih saya kenal sebagai sejarawan. Apalagi perhatian saya se-dang saya curahkan pada persoalan bagaimana strategi yang tepat dan mudah untuk dapat mengembangkan antropologi sebagai sebuah cabang ilmu pengetahuan. Topik ini tentu saja membawa saya pemikiran-pemikiran dari Thomas Kuhn mengenai revolu-si ilmu pengetahuan, yang dituangkan dalam bukunya yang memicu perdebatan pan-jang di kalangan ilmuwan di Barat, The Structure of Scientific Revolutions.

Kemudian suatu hari saya di-sms oleh mas Indra Bastian dari fakultas Ekonomika dan Bisnis, UGM. Dia minta saya menulis makalah tentang Strukturalisme Transenden-tal. Saya agak terkejut. Memang saya banyak menulis tentang paradigma Strukturalis-me dalam antropologi, tetapi bukan strukturalisme transendental. Akhirnya setelah sa-ya bertemu dengan mas Indra dan pak Edimeyanto dari fakultas Farmasi, dan mereka menjelaskan kepada saya mengapa mereka menghubungi saya, barulah saya mema-hami apa yang mereka inginkan dari saya [1]). Hasil dari pertemuan tersebut adalah sa-ya sepakat untuk membahas kembali masalah ilmu-ilmu profetik, yang pernah dibahas oleh mas Kunto, tetapi dengan perspektif saya sendiri tentu saja.

Dalam makalah ini saya mencoba memaparkan kembali secara ringkas pandangan-pandangan mas Kunto mengenai ilmu sosial profetik -karena mungkin tidak banyak yang tahu dengan cukup mendalam pandangan-pandangan tersebut-, dan kemudian membahasnya dengan agak kritis. Atas dasar beberapa kelemahan yang masih terda-pat dalam pemikiran mas Kunto, saya mencoba untuk mengembangkan lebih lanjut ga-gasan mas Kunto untuk membangun paradigma profetik yang lebih jelas komponennya lebih kokoh dasarnya, dan juga lebih jelas sosoknya. Tentu saja, karena terbatasnya ruang di sini, tidak semua komponen paradigma profetik akan saya ulas. Bagian yang akan saya ulas terutama adalah bagian tentang epistemologi.

II. ILMU (SOSIAL) PROFETIK : PANDANGAN KUNTOWIJOYO

Di Indonesia, pandangan mengenai ilmu sosial profetik -dan ini bisa juga kita artikan sebagai ilmu alam profetik- yang cukup komprehensif terdapat pada tulisan-tulisan mas Kunto, karena beliaulah yang secara sadar bermaksud membangun sebuah paradigma baru ilmu pengetahuan, yakni ilmu pengetahuan yang profetik, dengan agama Islam sebagai landasannya. Apa yang digagas oleh mas Kunto pada dasarnya bukanlah hal yang sama sekali baru dalam jagad pemikiran Islam. Dari tulisan-tulisannya kita dapat menemukan tokoh-tokoh pemikir Islam yang banyak mempengaruhi dan memberikan inspirasi pada mas Kunto.

1. Asal-Muasal Gagasan Ilmu (Sosial) Profetik, Transformatif di UGM

Kata profetik berasal dari bahasa Inggris ‘prophet’, yang berarti nabi. Menurut Ox-ford Dictionary ‘prophetic’ adalah (1) “Of, pertaining or proper to a prophet or prophe-cy”; “having the character or function of a prophet”; (2) “Characterized by, containing, or of the nature of prophecy; predictive”. Jadi, makna profetik adalah mempunyai sifat atau ciri seperti nabi, atau bersifat prediktif, memrakirakan. Profetik di sini dapat kita terjemahkan menjadi ‘kenabian’. Akan tetapi, adakah ilmu sosial kenabian? Ilmu sosial seperti apa ini?

Mas Kunto menulis bahwa “Asal-usul dari pikiran tentang Ilmu Sosial Profetik itu da-pat ditemukan dalam tulisan-tulisan Muhammad Iqbal dan Roger Garaudy”. Muham-mad Iqbal adalah tokoh pemikir Islam, sedang Roger Garaudy adalah ahli filsafat Pran-cis yang masuk Islam. Mas Kunto banyak mengambil gagasan dua pemikir untuk me-ngembangkan apa yang diangan-angankannya sebagai ilmu-ilmu profetik, lebih khusus lagi ilmu sosial profetik, karena mas Kunto adalah seorang sejarawan, seorang ilmu-wan sosial.

Dikatakan oleh mas Kunto bahwa gagasan mengenai ilmu sosial profetik yang dike-mukakannya dipicu antara lain oleh perdebatan yang terjadi di kalangan cendekiawan Islam mengenai teologi, yang terjadi dalam sebuah seminar di Kaliurang, Yogyakarta. Saat itu ada dua kubu yang berseberangan pendapat di situ, yakni kubu teologi kon-vensional, yang mengartikan teologi sebagai ilmu kalam, “yaitu suatu disiplin yang mempelajari ilmu ketuhanan, bersifat abstrak normatif, dan skolastik” dengan kubu teo-logi transformatif, yang memaknai teologi sebagai “penafsiran terhadap realitas dalam perspektif ketuhanan. Jadi lebih merupakan refleksi-refleksi empiris” (83). Menurut mas Kunto, perbedaan pandangan ini sulit diselesaikan, karena masing-masing memberi-kan makna yang berbeda terhadap konsep paling pokok di situ, yaitu konsep teolo-gi itu sendiri. Untuk mengatasi kemacetan dialog ini Kuntowijoyo mengusulkan diganti-nya istilah teologi menjadi ilmu sosial, sehingga istilah Teologi Transformatif diubah menjadi Ilmu Sosial Transformatif.

Peristiwa lain yang menjadi pemicu gagasan mas Kunto tentang ilmu profetik adalah

Kongres Psikologi Islam I di Solo, 10 Oktober 2003. Ketika itu ada pemakaian istilah “Islamisasi pengetahuan”, yang menggelisahkan mas Kunto, karena makna istilah ter-sebut kemudian “diplesetkan” ke arah “Islamisasi non-pri”, yang dihubungkan dengan “sunat secara Islam”, atau tetakan (bhs.Jawa). “Tentu saja saya sakit hati dengan pe-nyamaan itu, meskipun ada benarnya juga” begitu tulisa mas Kunto,”Saya sakit hati ka-rena sebuah gerakan intelektual yang sarat nilai keagamaan disamakan dengan gerak-an bisnis pragmatis. Oleh karena itu saya tidak lagi memakai istilah “Islamisasi penge-tahuan”, dan ingin mendorong supaya gerakan intelektual umat sekarang ini melang-kah lebih jauh, dan mengganti “Islamisasi pengetahuan” menjadi “Pengilmuan Islam”. Dari reaktif menjadi proaktif” (2006: vii-viii).

Mas Kunto kemudian menghimpun gagasan-gagasan yang masih terserak di sana-sini menjadi sebuah “nonbuku darurat”, “nonbuku comat-comot” -begitu dia menyebut buku kecilnya- yang diberi judul Islam sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi dan Eti-ka. Menurut mas Kunto “Pengembangan Paradigma Islam itu merupakan langkah per-tama dan strategis ke arah pembangunan Islam sebagai sistem, gerakan sosial-budaya ke arah sistem Islam yang kaffah, modern dan berkeadaban. Dengan demikian Islam akan lebih credible bagi pemeluknya dan bagi non-Muslim…” (2006: ix). Apa yang mas Kunto lakukan adalah sebuah langkah awal untuk mewujudkan sebuah Paradigma Is-lam dalam jagad ilmu pengetahuan, yang sampai saat ini umumnya menggunakan ba-sis paradigma dari dunia Barat.

Bagi mereka yang tidak terbiasa dengan wacana filsafat ilmu pengetahuan, paparan mas Kunto dalam buku tersebut masih termasuk sulit dipahami, meskipun mas Kunto tampaknya telah berusaha untuk menggunakan bahasa yang semudah mungkin, agar apa yang diuraikannya dapat dimengerti oleh banyak orang. Paparan mas Kunto masih tidak mudah dicerna karena selain mengandung sejumlah konsep yang tidak selalu je-las maknanya bagi setiap orang, butir-butir yang dipaparkannya juga tidak tersusun de-ngan runtut dan sistematis. Beberapa gagasan yang mestinya dijelaskan di awal buku ternyata muncul di bagian tengah atau agak akhir. Selain itu, gagasan-gagasan terse-but juga tidak semuanya telah cukup lengkap untuk disajikan, sehingga keterkaitan sa-tu gagasan dengan gagasan yang lain seringkali tidak sangat jelas.

Di sini saya mencoba untuk memaparkan kembali apa yang telah dijelaskan oleh mas Kunto dalam bukunya secara lebih ringkas. Mudah-mudahan berbagai butir pemi-kiran mas Kunto kemudian lebih dapat dipahami dan dikembangkan di kemudian hari. Jika penjelasan saya ini, tafsir saya ini, ternyata tidak membuat pemikiran mas Kunto bertambah jelas dan mudah dimengerti oleh orang lain, maka itu sepenuhnya adalah kesalahan saya sebagai penafsir.

2. Ilmu Sosial Profetik, Ilmu Sosial Transformatif

Sebenarnya paradigma Islam untuk ilmu pengetahuan ayng dikembangkan oleh mas Kunto akan mencakup juga ilmu-ilmu alam, tetapi karena mas Kunto adalah ahli sejarah, yang berarti juga ilmuwan sosial, maka gagasan mas Kunto lebih terfokus pa-da upaya mengembangkan ilmu sosial profetik, yang pada dasarnya juga merupakan ilmu sosial yang transformatif. Menurut mas Kunto Ilmu Sosial Transformatif adalah ilmu yang didasarkan pada hasil “elaborasi ajaran-ajaran agama ke dalam bentuk su-atu teori sosial”. Sasaran utamanya adalah “rekayasa untuk transformasi sosial. Oleh karena itu ruang lingkupnya bukan pada aspek-aspek normatif yang permanen seperti pada teologi, tetapi pada aspek-aspek yang bersifat empiris, historis, dan temporal..” (p.85)

Ilmu Sosial Transformatif, “tidak berhenti hanya untuk menjelaskan fenomena sosial namun juga berupaya untuk mentransformasikannya”. Masalahnya kemudian adalah, “ke arah mana transformasi itu dilakukan, untuk apa dan oleh siapa? Terhadap perta-nyaan-pertanyaan ini, Ilmu Sosial Transformatif tidak memberikan penjelasannya. Oleh karena itu, Kuntowijoyo kemudian mengusulkan adanya ilmu-ilmu sosial profetik, yaitu ilmu-ilmu sosial “yang tidak hanya menjelaskan dan mengubah fenomena sosial, tetapi juga memberi petunjuk ke arah mana transformasi itu dilakukan, untuk apa dan oleh siapa. Oleh karena itulah ilmu sosial profetik tidak sekedar mengubah demi perubahan, tetapi mengubah berdasarkan cita-cita etik dan profetik tertentu”.

Pertanyaannya kemudian adalah etik yang mana, dan profet (nabi) yang mana? Se-bagai seorang Muslim, tentu saja mas Kunto kemudian menengok ke agama Islam. Akan tetapi, bukan hanya ini saja alasannya. Faktor lain yang tidak kalah pentingnya adalah tidak adanya agama-agama lain yang dijadikan basis bagi ilmu pengetahuan yang kita geluti sekarang ini. Ilmu pengetahuan yang kita warisi dari masyarakat dan pandangan hidup Barat adalah ilmu pengetahuan yang telah kehilangan roh spiritual-nya.

Menurut mas Kunto, “kita perlu memahami Al Qur’an sebagai paradigma”, dan para-digma yang dimaksudkan oleh Kuntowijoyo adalah paradigma sebagaimana yang di-maksud oleh Kuhn. Katanya, “Dalam pengertian ini, paradigma Al Qur’an berarti suatu konstruksi pengetahuan yang memungkinkan kita memahami realitas sebagaimana Al Qur’an memahaminya. Konstruksi pengetahuan itu dibangun oleh Al Qur’an pertama-tama dengan tujuan agar kita memiliki “hikmah” yang atas dasar itu dapat dibentuk pe-rilaku yang sejalan dengan nilai-nilai normatif Al Qur’an, baik pada level moral maupun pada level sosial. Tetapi rupanya, konstruksi pengetahuan ini juga memungkinkan kita untuk merumuskan desain besar mengenai sistem Islam, termasuk dalam hal ini sistem ilmu pengetahuannya. Jadi, di samping memberikan gambaran aksiologis, paradigma Al Qur’an juga dapat berfungsi untuk memberikan wawasan epistemologis…” (p11).

Sehubungan dengan itu mas Kunto terlihat sangat setuju dengan pandangan Roger Garaudy. Garaudy -sebagaimana dikutip oleh mas Kunto- mengatakan bahwa filsafat Barat (filsafat kritis) “tidak memuaskan, sebab hanya terombang-ambing antara dua ku-bu, idealis dan materialis, tanpa kesudahan. Filsafat Barat (filsafat kritis) itu lahir dari pertanyaan: bagaimana pengetahuan itu dimungkinkan. Dia [Garaudy] menyarankan untuk mengubah pertanyaan itu menjadi: bagaimana wahyu itu dimungkinkan..” (2006: 97). Garaudy berpendapat bahwa “Filsafat Barat sudah “membunuh” Tuhan dan manu-sia”. Oleh karena itu dia menyarankan “supaya umat manusia memakai filsafat kenabi-an dari Islam (Garaudy, 1982: 139-168) dengan mengakui wahyu” (2006: 98).

3. Wahyu : Basis Epistemologis dan Implikasinya

Gagasan Garaudy mengenai wahyu sebagai salah satu sumber pengetahuan rupa-nya sangat menarik perhatian mas Kunto, karena ini merupakan sebuah alternatif yang ditawarkan oleh Garaudy untuk mengatasi kelemahan yang ada dalam ilmu pengetahu-an empiris. Bagaimana wahyu ini harus dimasukkan dalam sistem ilmu pengetahuan profetik?

a. Sumber Pengetahuan : Wahyu – Akal

Menurut Kuntowijoyo “Wahyu” itu sangat penting”, tulisnya. Unsur wahyu inilah yang membedakan epistemologi Islam dengan “cabang-cabang epistemologi Barat yang be-sar seperti Rasionalisme atau Empirisme, yang mengakui sumber pengetahuan seba-gai hanya berasal dari akal atau observasi saja”. Dilihat dari perspektif Islam, epistemo-logi Rasionalisme dan Epirisme menurut Kuntowijoyo menja-di “tampak….terlalu seder-hana” (17). Dalam epistemologi Islam menurut Kuntowijoyo, “unsur petunjuk transen-dental yang berupa wahyu juga menjadi sumber pengetahuan yang penting. Pengeta-huan wahyu, oleh karena itu menjadi pengetahuan apriori. “Wahyu” menempati posisi sebagai salah satu pembentuk konstruk mengenai realitas, sebab wahyu diakui seba-gai “ayat-ayat Tuhan” yang memberikan pedoman dalam pikiran dan tindakan seorang Muslim. Dalam konteks ini, wahyu lalu menjadi unsur konstitutif di dalam paradigma Is-lam” (p.17).

Dalam Islam wahyu yang dianggap paling sempurna dan karena itu memiliki otoritas tertinggi adalah Al Qur’an. Al Qur’an merupakan kumpulan wahyu yang diyakini ditu-runkan oleh Allah s.w.t. melalui perantaraan malaikat Jibril kepada manusia yang dipilih oleh Allah s.w.t. untuk menyampaikan wahyu tersebut kepada seluruh umat manusia, yaitu Muhammad s.a.w. Oleh karena itu, dalam keyakinan umat Islam Muhammad s.a.w. adalah seorang Nabi dan utusan Allah (Rasulullah).

b. Pendekatan : Strukturalisme Transendental

Menempatkan wahyu sebagai sumber pengetahuan juga mempunyai implikasi lebih jauh, yaitu pengakuan adanya struktur transendental yang dapat menjadi referensi untuk menafsirkan realitas; “Pengakuan mengenai adanya ide yang murni, yang sumber-nya berada di luar diri manusia; suatu konstruk tentang struktur nilai-nilai yang berdiri-sendiri dan bersifat transendental”. Hal ini juga berarti “mengakui bahwa Al Qur’an ha-rus dipahami sebagai memiliki bangunan ide yang transendental, suat orde, suatu sis-tem gagasan yang otonom dan sempurna”.

Mengapa pengakuan itu diberikan? Oleh karena pesan utama Al Qur’an, menurut mas Kunto, “sesungguhnya bersifat transendental, dalam arti melampaui zaman”. Untuk itu diperlukan metodologi yang “mampu mengangkat teks (nash) Al Qur’an dari kon-teksnya”. Bagaimana caranya? Tidak lain adalah “dengan mentransendensikan makna tekstual dari penafsiran kontekstual berikut bias-bias historisnya” (p.18). Dengan begitu kita akan dapat menangkap kembali “makna teks -yang seringkali merupakan respons terhadap realitas historis- kepada pesan universal dan makna transendentalnya”, seka-ligus “membebaskan penafsiran-penafsiran terhadapnya dari bias-biasa tertentu akibat keterbatasan situasi historis..” (p.18).

Apa implikasi dari pandangan adanya struktur yang bersifat transenden tersebut? Tidak lain adalah pandangan bahwa “Al Qur’an sesungguhnya menyediakan kemung-kinan yang sangat besar untuk dijadikan sebagai cara berfikir. Cara berfikir inilah yang kita namakan paradigma Al Qur’an, paradigma Islam..” (p.24). Lantas, seperti apa kira-kira struktur transendental Al Qur’an tersebut kira-kira? Menurut mas Kunto, “Struktur Transendental Al Qur’an adalah suatu ide normatif dan filosofis yang dapat dirumuskan menjadi paradigma teoretis. Ia akan memberikan kerangka ba-gi pertumbuhan ilmu pengetahuan empiris dan ilmu pengetahuan rasional yang orisinal dalam arti sesuai dengan kebutuhan pragmatis masyarakat Islam, yaitu mengaktualisa-sikan misinya menjadi khalifah di bumi”.

Selain itu, mas Kunto memilih strukturalisme untuk mendekati Al Qur’an karena me-nurutnya “tujuan kita bukanlah memahami Islam, tetapi bagaimana menerapkan ajaran-ajaran sosial yang terkandung dalam teks lama pada konteks sosial masa kini tanpa mengubah strukturnya” (p.28). Dalam hal ini mas Kunto banyak mendapat inspirasi da-ri strukturalisme yang dikembangkan oleh ahli antropologi Prancis, Claude Lévi-Strauss

Saya tidak akan memaparkan lebih lanjut strukturalisme dari Lévi-Strauss, karena ter-lalu jauh dari topik sekarang ini, tetapi kita perlu tahu apa gagasan mas Kunto menge-nai ilmu (sosial) profetik yang diilhami oleh strukturalisme Lévi-Strauss [2]).

Oleh mas Kunto konsep-konsep innate structuring capacity, deep structure dan sur-face structure dalam strukturalisme ditransformasikan ke dalam sistem Islam, sehingga muncul model sebagai berikut (yang merupakan transformasi dari model yang ada da-lam buku Lane (1970) (lihat halaman berikut).

Bagian yang bagi saya paling tidak jelas dari paparan mas Kunto setelah ini adalah uraiannya mengenai strukturalisme transendental. Mas Kunto masih berada pada jalur pemikiran yang bisa dimengerti ketika menggunakan konsep transformasi untuk mem-buat paradigma Islam tetap relevan dengan masa kini dengan memanfaatkan konsep-konsep pokok dalam strukturalisme sebagaimana terlihat pada model di atas. Akan te-tapi uraiannya mengenai strukturalisme transendental menjadi begitu membingungkan ketika menjelaskan perlunya ada perluasan pada “muamalah” dalam Islam, karena di situ tidak terlihat sama sekali hubungan antara struktur yang transenden dengan perlu-asan muamalah yang diusulkannya.

Skema 1. Struktur dalam Islam

Tauhid                                          <——- innate structuring

|                                                           capacity

———————————————————

|                |              |               |                    |

Akidah     Ibadah     Akhlak     Syariat     Muamalah     <——-   deep structure

|                |              |               |                    |

Keyakinan    Sholat/    Moral/      Perilaku      Perilaku      <——    surface structure

Puasa/    Etika       Normatif      Sehari-

Zakat/                                        hari

Haji

Perluasan muamalah tersebut menurut mas Kunto berupa enam macam kesadaran, yaitu: (1) kesadaran adanya perubahan; (2) kesadaran kolektif; (3) kesadaran sejarah; (4) kesadaran adanya fakta sosial; (5) kesadaran adanya masyarakat abstrak; (6) ke-sadaran perlunya objektifikasi. Gagasan tentang perluasan kesadaran ini menarik, teta-pi sayang sekali mas Kunto tidak menjelaskan lebih lanjut mengapa kesadaran-kesa-daran itu yang disodorkannya, dan perluasan tersebut sebaiknya terjadi di kalangan il-muwan Islam -yang mengusung paradigma baru, paradigma Islam/profetik-, atau di ka-langan umat Islam? Akibat ketidak-jelasan ini, perluasan muamalah menjadi enam ma-cam kesadaran tersebut menjadi tidak banyak artinya dalam kerangka pemikiran ilmu (sosial) profetik.

Pertanyaan lebih lanjut adalah: bagaimana kita menganalisis dan menafsir sistem wahyu (Al Qur’an) dalam kerangka berfikir ilmu (sosial) profetik?

c. Analisis / Tafsir : Sintetik – Analitik

Mas Kunto menawarkan pendekatan sintetik-analitik terhadap Al Qur’an, yang me-mandang kandungan Al Qur’an terbagi menjadi dua, yakni (a) konsep-konsep dan (b) kisah-kisah sejarah dan amtsal (p.12). Kandungan ini dapat dikatakan sebagai sumber pengetahuan, karena konsep-konsep, sejarah dan amtsal tersebut memang menunjuk pada realitas-realitas tertentu dalam kehidupan manusia.

Konsep-konsep ini menunjuk pada “pengertian-pengertian normatif yang khusus, doktrin-doktrin etik, aturan-aturan legal, dan ajaran-ajaran keagamaan pada umumnya. Istilah-istilah, atau singkatnya pernyataan-pernyataan, itu mungkin diangkat dari kon-sep-konsep yang telah dikenal oleh masyarakat Arab pada waktu Al Qur’an diturunkan, atau bisa jadi merupakan istilah-istilah baru yang dibentuk untuk mendukung adanya konsep-konsep etiko-religius yang ingin dikenalkannya. Istilah-istilah itu kemudian diin-tegrasikan ke dalam pandangan-pandangan dunia Al Qur’an, dan secara demikian lalu menjadi konsep-konsep otentik.” (p.12).

Konsep-konsep ini ada yang menunjuk pada hal-hal yang abstrak, tidak empiris, se-perti misalnya konsep Allah, malai’kah, akhirah, ma’ruf, munkar dan sebagainya. Ada pula yang menunjuk apda hal-hal yang empiris, kongkret, dan dapat diamati, seperti misalnya konsep fukara, dhu’afa, dhalimun, kafirun, mufsidun, dan sebagainya (p.12-13). Konsep-konsep ini memiliki makna-makna tertentu. Ada yang bersifat umum dan mudah dimengerti, ada pula yang bersifat khusus, dan memiliki sejumlah makna juga. Menurut mas Kunto, “Kesemua konsep itu menjadi memilki makna bukan saja karena keunikannya secara semantik, tetapi juga karena kaitannya dengan matriks struktur normatif dan etik tertentu yang melaluinya pesan-pesan Al Qur’an dipahami. Dalam ka-itan ini, konsep-konsep Al Qur’an bertujuan memberikan gambaran utuh tentang dok-trin Islam, dan lebih jauh lagi tentang pandangan dunianya” (p.13)

Berbeda lagi halnya dengan bagian kedua, yang berisi sejarah dan amtsal. Bagian ini menurut mas Kunto mengajak manusia untuk melakukan “perenungan untuk mem-peroleh wisdom (hikmah)”. Dengan merenungkan berbagai kejadian yang ada dalam sejarah kehidupan manusia sebagaimana diceriterakan dalam Al Qur’an, dan juga me-tafor-metafornya, “manusia diajak untuk merenungkan hakekat dan makna kehidupan. Banyak sekali ayat yang berisi ajakan semacam itu, tersirat maupun tersurat, baik me-nyangkut hikmah historis ataupun menyangkut simbol-simbol” (p.13).

“…Dalam bagian yang berisi kisah dan amtsal” kata mas Kunto, “kita diajak untuk mengenali arche-type tentang kondisi-kondisi yang universal”, misalnya tentang kesa-baran nabi Ayyub, kedhaliman Fir’aun, kedhaliman kaum Tsamud, keyakinan nabi Ibra-him, dan sebagainya. Penggambaran arche-type ini dimaksudkan agar umat manusia “dapat menarik pelajaran moral dari peristiwa-peristiwa empiris yang terjadi dalam seja-rah, bahwa peristiwa-peristiwa itu sesungguhnya bersifat universal dan abadi. Bukan bukti obyektif-empirisnya yang ditonjolkan, akan tetapi ta’wil subyektif-normatifnya” (p.13-14). Memahami pesan-pesan Al Qur’an dengan cara inilah yang oleh mas Kunto dikatakan sebagai memahami “secara sintetik”, karena di sini “kita lebih merenungkan pesan-pesan moral Al Qur’an dalam rangka mensintesiskan penghayatan dan penga-laman subyektif kita dengan ajaran-ajaran normatif” (p.14)

Pendekatan sintetis akan dapat menghasilkan transformasi psikologis yang berlang-sung pada tingkat individu. Diakui oleh mas Kunto bahwa hal ini memang penting, teta-pi belum lengkap, karena Islam tidak hanya ditujukan untuk hal semacam itu. Islam di-turunkan dengan tujuan juga mengubah masyarakat, melakukan transformasi sosial. Untk menangkap pesan transformatif sosial inilah mas Kunto menawarkan pendekatan analitik terhadap wahyu-wahyu yang telah diturunkan, yakni Al Qur’an. Dengan pende-katan ini maka konsep-konsep normatif yang terdapat dalam Al Qur’an akan dapat dio-perasionalkan menjadi obyektif dan empiris (p.15).

Dengan pendekatan ini sebagian kandungan Al Qur’an akan dapat diperlakukan se-bagai data, “sebagai suatu dokumen mengenai pedoman kehidupan yang berasal dari Tuhan”. Menurut pendekatan ini ayat-ayat Al Qur’an yang sebenarnya merupakan per-nyataan-pernyataan normatif perlu dianalisis untuk diterjemahkan pada level yang ob-yektif, bukan subyektif. Artinya, di sini ayat-ayat Al Qur’an perlu “dirumuskan dalam bentuk konstruk-konstruk teoritis. Sebagaimana kegiatan analisis data akan menghasil-kan konstruk, maka demikian pula analisis terhadap pernyataan-pernyataan Al Qur’an akan menghasilkan konstruk-konstruk teorits Al Qur’an. Elaborasi terhadap konstruk-konstruk teoritis Al Qur’an inilah yang pada akhirnya merupakan kegiatan Qur’anic the-ory building, yaitu perumusan teori Al Qur’an”. Dari sinilah akan dapat lahir kemudian paradigma Al Qur’an, paradigma Islam.

4. Etika: Humanisme-Teosentris

Dalam kerangka yang dibuat oleh mas Kunto untuk membedakan antara Ilmu Barat dengan Ilmu Islam, salah satu unsur atau aspek yang dijadikan patokan adalah etika. Empat aspek yang lain adalah: periode, sumber pengetahuan, proses sejarah dan sifat ilmu. Menurut mas Kunto, Ilmu Barat berada dalam periode “Modern”, sedang Ilmu Is-lam berada pada periode “Pasca Modern”. Sumber pengetahuan Ilmu Barat adalah “Akal”, sedang sumber pengetahuan Ilmu Islam adalah “Wahyu dan Akal”. Etika Ilmu Barat adalah Humanisme, sedang etika Ilmu Islam adalah Humanisme-Theosentris.. Proses sejarah dalam Ilmu Barat adalah differensiasi, sedang dalam Ilmu Islam dediffe-rensiasi. Ilmu Barat bersifat sekular dan otonom, sedang Ilmu Islam bersifat integralistik

Dari lima aspek tersebut, empat di antaranya dijelaskan dengan panjang lebar oleh mas Kunto. Sayangnya satu aspek -yang menurut saya tidak kalah pentingnya dengan yang lain- yaitu aspek etika tidak dia jelaskan. Oleh karena itu, kita tidak tahu dengan pasti apa yang dimaksud oleh mas Kunto sebagai “Humanisme-Teosentris”. Meskipun sedikit banyak saya tahu tentang Humanisme dan makna Teosentris, tetapi saya mera-sa lebih baik tidak menjelaskannya di sini, karena mas Kunto memang tidak menjelas-kannya.

5. Tujuan : Humanisasi / Emansipasi, Liberasi / Pembebasan, Transendensi

Menurut mas Kunto, ilmu sosial saat ini tengah mengalami kemandegan, sehingga muncul kemudian ilmu Sosial Transformatif. Transformasi sosial seperti apa yang diba-yangkan oleh mas Kunto dapat diwujudkan oleh ilmu Islam atau paradigma Islam? Ilmu sosial profetik “secara sengaja memuat kandungan nilai-nilai dari cita-cita perubahan yang diidamkan masyarakatnya”. Menurut Kuntowijoyo hal itu berarti bahwa perubahan tersebut didasarkan pada cita-cita humanisasi/emansipasi (humanization/emancipa-tion), liberasi/pembebasan (liberation) dan transendensi (transcendence). Ini merupa-kan cita-cita profetik yang diturunkan dari misi historis Islam sebagaimana yang diang-gap terdapat pada ayat 110 dari surat Ali Imran (3), yang berbunyi, “Engkau adalah umat terbaik yang diturunkan di tengah manusia untuk menegakkan kebaikan, mence-gah kemungkaran (kejahatan) dan beriman kepada Allah”.

Tiga muatan nilai itulah -yakni “menegakkan kebaikan”, “mencegah kemungkaran” dan “beriman kepada Allah”-, kata mas Kunto “yang mengkarakterisasikan ilmu sosial profetik”. Di sini kita lihat mas Kunto telah mentrasformasikan tiga nilai tersebut ke da-lam ilmu sosial menjadi humanisasi, liberasi dan transendensi. Humanisasi artinya “me-manusiakan manusia”; “menghilangkan kebendaan”, ketergantungan, kekerasan dan kebencian manusia”. Ini merupakan implementasi dari nilai perubahan “amar ma’ruf”. Liberasi atau “pembebasan” merupakan implementasi dari nilai “nahi munkar”, sedang transendensi merupakan implementasi dari nilai tu’minuuna billaah (p.98)

Saya tidak akan menjelaskan lebih lanjut pandangan-pandangan mas Kunto tentang tiga hal tersebut, karena penjelasan mas Kunto dalam bukunya cukup panjang dan re-latif mudah dimengerti. Mereka yang ingin mengetahui lebih lanjut pandangan mas Kunto dapat membaca bukunya.

6. Telaah Kritis atas Pandangan Kuntowijoyo

Dari paparan di atas -yang tentu saja tidak sangat rinci, namun menurut saya sudah mencakup elemen-elemen yang pokok- kita melihat bahwa mas Kunto telah mengem-bangkan pemikiran tentang ilmu profetik secara serius. Alasan-alasan yang penting mengenai perlunya dibangun ilmu (sosial) profetik, transformatif, telah dikemukakannya dengan baik. Beberapa asumsi dasar penting dalam ilmu tersebut juga telah dipapar-kannya, sehingga kalau kita tidak cukup kritis maka kita akan merasa bahwa pandang-an mas Kunto tentang ilmu profetik tersebut sudah cukup lengkap, dan kita bisa segera melaksanakan atau mengimplementasikannya.

Tidak demikian halnya jika kita mau bersikap lebih kritis dan memperhatikan bagian-bagian kecil dari pandangan tersebut. Ada beberapa kelemahan yang segera terlihat di situ. Pertama adalah tidak adanya konsepsi tentang apa itu paradigma dengan berba-gai komponennya. Akibatnya, banyak bagian-bagian dari paradigma yang luput dari pembahasan mas Kunto, sehingga paradigmanya terlihat sekali lubang-lubangnya di sana-sini. Paradigma yang dibangun oleh mas Kunto kemudian terlihat sangat rapuh, dan mudah sekali dirontokkan oleh mereka yang kritis.

Kedua, implikasi transformasional yang dibahas oleh mas Kunto masih terfokus pa-da transformasi sosial. Belum ada di situ pembahasan tentang transformasi individual, padahal transformasi individual berlangsung mendahului transformasi sosial. Bagaima-na seseorang akan mampu mengubah masyarakatnya, jika dia sendiri belum berubah atau masih seperti warga masyarakat yang lain? Selain itu, realitas empiris dari masya-rakat tidak lain adalah individu-individu dengan berbagai macam perilaku dan tindakan-nya, sehingga tanpa transformasi di tingkat individu sebenarnya tidak akan pernah da-pat terjadi transformasi di tingkat masyarakat. Tanpa transformasi individual tidak akan terjadi transformasi sosial. Mas Kunto tampaknya lupa untuk memperhatikan hal ini.

Jika kita sepakat dengan Thomas Kuhn bahwa revolusi ilmu pengetahuan tidak lain adalah perubahan paradigma, perubahan pada mode of thought, pada mode of inquiry, maka kita akan sampai pada pendapat bahwa inti ilmu pengetahuan tidak lain adalah paradigma (Ahimsa-Putra, 2007). Jika demikian, maka apa yang seharusnya dibahas dan dibangun terlebih dahulu oleh mas Kunto adalah sebuah konsepsi atau pandangan mengenai paradigma, mengenai sebuah kerangka pemikiran. Oleh karena ini belum di-lakukan oleh mas Kunto, maka dengan sendirinya pemikiran mas Kunto mengenai ilmu profetik masih jauh dari lengkap. Fondasi filosofisnya masih rapuh. Oleh karena itu pula adanya dua kelemahan di atas -di samping beberapa kelemahan yang sudah saya se-but dalam paparan tentang pemikiran mas Kunto- sudah cukup kiranya menjadi alasan bagi kita untuk membangun sebuah paradigma profetik yang lebih lengkap unsurnya dan lebih kokoh fondasinya.

—– bersambung —–

DAFTAR  PUSTAKA

Ahimsa-Putra, H.S. 2008. Paradigma dan Revolusi Ilmu Dalam Antropologi Budaya:

Sketsa Beberapa Episode. Pidato Pengukuhan Guru Besar. Yogyakarta; Univer-

sitas Gadjah Mada.

_________. 2009. Paradigma Ilmu Sosial-Budaya: Sebuah Pandangan. Makalah cera-

mah.

Anonim. 2002. Laporan Penyelenggaraan Sarasehan Ilmu-ilmu Profetik, Universitas

Gadjah Mada. Yogyakarta.

Cuff, E.C. dan G.C.F.Payne (eds.). 1979. Perspectives in Sociology. London: George

Allen & Unwin.

Inkeles, A. 1964. What is Sociology?. Englewood Cliffs, N.J.: Prentice-Hall.

Kuhn, T. 1970. The Structure of Scientific Revolutions. Chicago: The University of Chi-

cago Press. Second Edition, Enlarged.

Kuntowijoyo. 2006. Islam sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi dan Etika. Yogyakar-

ta: Tiara Wacana.

Lane, M. 1970. “Introduction” dalam Introduction to Structuralism, M.Lane (ed.) New

York: Basic Books.

Masterman, M. 1970. “The Nature of a Paradigm” dalam Criticism and the Growth of

Knowledge, I. Lakatos dan A.Musgrave (eds.). Cambridge: Cambridge University

Press.

Nagel, E. 1961. The Structure of Science: Problems in the Logic of Scientific Explana-

tion London: Routledge and Kegan Paul.

Reynolds, A. 1980. A Primer in Theory Construction.

Ratoosh, P. 1973. “Sense and Sensation”. Encyclopedia Americana vol.24: 559-561.

ooooo

) ) Alhamdulillah, saya dipertemukan oleh Allah s.w.t. dengan mas Indra Bastian dan pak Edimeyanto, sehingga saya terlibat dalam membangun pemikiran mengenai ilmu (sosial) profetik, transformatif. Saya berterimakasih kepada mas Indra dan pak Edimeyanto yang telah mengajak saya  terlibat dalam pergulatan pemikiran mengenai ilmu profetik ini.

[2] ) Tampaknya pandangan mas Kunto mengenai strukturalisme transendental inilah yang kemudian membuat mas Indra dan pak Edimeyanto menghubungi saya untuk menulis tentang strukturalisme transendental, karena saya telah menulis buku tentamng strukturalisme Lévi-Strauss (lihat Ahimsa-Putra, 2008).

[3] ) Uraian mengenai paradigma ini saya ambil dari makalah saya di tahun 2009 (Ahimsa-Putra, 2009).

Categories: Uncategorized